Oleh: mdwmaluku | Agustus 26, 2008

Parpol dan Caleg Kepepet

Parpol dan Caleg Kepepet

Oleh: Mohamad Ikhsan Tualeka

Koordinator Mollucas Democratization Watch (MDW)

Opini Ambon Ekspres 11 Agustus 2008

Kecemasan politik publik di Maluku belum benar-benar terhapus, setelah melalui proses pemilihan kepala daerah (pilkada) yang agak menegangkan. Kini publik kembali mesti disibukan dengan hiruk-pikuk pelaksanaan kampanye pemilu legislaif yang akan berjalan sampai sembilan bulan kedepan.

Di Maluku, partai politik (parpol) kontestan pemilu mulai berancang-ancang. Sosialisasi dilakukan, daftar dan nomor urut calon legislator (caleg) disiapkan. Menjadikan caleg tak kalah sibuknya. Bagi yang memiliki kemampuan, kapasitas dan integritas untuk menjadi wakil rakyat, tentu tidak masalah di usung oleh parpol manapun. Akan menjadi masalah jika caleg yang maju adalah politisi kepepet alias politisi karbitan, politisi kutu loncat dan mereka yang memiliki jejak rekam (track record) buruk yang sering diistilahkan politisi busuk. Menjadi masalah karena terbuka peluang lembaga legislatif baik di level lokal maupun nasional kembali di isi oleh politisi gagap.

Inilah yang mesti diwaspadai. Sebab proses siklus politik negeri ini masih membuka peluang bagi politisi kepepet untuk maju dalam pemilu. Sistem politik ikut memberikan kontribusi sangat besar bagi perilaku politisi dan parpol. Ini tak lain karena sistem yang ada sekarang cenderung tambal-sulam dan menyumbang terhadap stagnasi dan dekadensi parpol. Mudahnya pembentukan parpol dan longgarnya aturan yang mendukung pelembagaan dan pendewasaan parpol menjadi penyebab utama.

Munculnya sejumlah parpol baru yang belum memiliki tradisi dan rekrutmen caleg yang jelas, memungkinkan siapa saja bisa menjadi caleg. Memang ada keinginan sejumlah kalangan agar dibuat aturan bahwa parpol hanya boleh mencalonkan orang-orang yang memiliki kartu anggota dan telah menjadi anggota partai sekurang-kurangnya dua tahun. Tapi gagasan semacam itu sulit diwujudkan bila parpol kontestan pemilu justru baru berdiri satu tahun menjelang kampanye pemilu (realitas sekarang). Padahal dengan mencalonkan caleg yang sekurang-kurangnya telah dua tahun menjadi kader partai, sangat diperlukan untuk mendorong penataan sistem kaderisasi dan akuntabilitas rekrutmen kepemimpinan politik. Dengan demikian partai akan dipaksa untuk berbenah dan tidak sekedar menjadi batu loncatan bagi para pemburu kekuasaan.

Selain sistem politik yang perlu dibenahi, diperlukan juga upaya reformasi dalam diri parpol. Misalnya, dalam penyusunan daftar caleg perlu ada pembagian yang seimbang antara pilihan partai (party vote) dengan keinginan rakyat (popular vote). Hal ini diharapkan mampu mendorong transparansi, akuntabilitas dan demokrasi internal dalam parpol. Karena sistem ini dapat memaksa politisi dan partainya untuk semakin dekat dan akuntabel terhadap konstituen.


Kemudian upaya mengurangi ongkos politik (political cost), ini penting dilakukan. Proses politik memang membutuhkan ongkos yang tidak sedikit, tapi bukannya tidak bisa dikurangi. Politisi dan parpol dapat mengurangi ongkos politik dengan lebih mengedepankan kemampuan intelektual dan gagasan-gagasan cerdas dalam menghimpun pemilih atau mempengaruhi konstituen. Pola relasi yang keliru seperti memberi uang dan hadiah harus ditinggalkan, diganti dengan pendidikan politik yang berorientasi pada gagasan bagaimana memperjuangkan aspirasi dan kepentingan konstituen. Dengan demikian persaingan antara politisi-partai dapat digeser pada persaingan gagasan dan wacana, bukan lagi materi.

Selain faktor internal yang disebutkan diatas, faktor eksternal juga mujarab dalam mendorong reformasi parpol. Sebab upaya internal yang bertumpu dari dalam kerap hanya menghasilkan dandanan atau lipstick untuk mempercantik diri partai. Contohnya inkonsistensi pelaksanaan konvensi partai Golkar, serta sering diabaikannya mekanisme internal partai yang demokratis oleh elit partai. Sejumlah partai justru tampil sangat sentralistik dalam pengambilan kebijakan partai dan mengabaikan arus bawah. Dalam kenyataannya pula, demokrasi yang didorong dari luar cenderung lebih lugas mengubah paradigma kepartaian secara menyeluruh, sebab taruhannya adalah hidup mati partai itu. Sedangkan reformasi internal cenderung hanya berkutat pada urusan hidup mati elit partai saja.

Dorongan dari luar dapat dilakukan oleh media massa dan konstituen. Media massa dengan pemberitaan yang kritis dan berimbang tentang kiprah politisi dan parpol dapat menjadi alat kontrol yang kuat agar partai lebih mengedepankan kepentingan konstituen jika tak mau ditinggalkan. Keterlibatan konstituen dalam parpol dan proses-proses politik juga sangat besar pengaruhnya dalam mendorong reformasi parpol. Semakin dalam dan luas partisipasi publik akan semakin mendorong parpol untuk berbenah. Dengan demikian partai akan lebih dipaksa untuk terbuka dan relevan dengan keinginan pemilihnya.

Inilah yang diharapkan. Dengan pembenahan parpol, baik oleh faktor internal maupun eksternal, peluang caleg kepepet semakin dipersempit. Peluang mereka harus diperkecil, karena politisi kepepet dalam berebut kedudukan seringkali hanya dengan modal ‘tampang’, enteng obral janji dan tebar pesona kesana-kemari. Getol bicara visi dan misi tapi sering kedodoran jika ditanya program-program kongkrit apa yang bisa ditawarkan dan diperjuangkan kepada masyarakat. Dalam meraih simpati rakyat, mereka kerap hanya mengandalkan poster, spanduk dan stiker ketimbang turun di basis massa dan bicara substantif tentang upaya perbaikan nasib rakyat.

Nah, pertanyaannya adalah, apakah hal yang sama masih efektif dipakai oleh mereka dalam pemilu 2009 nanti, ditengah belum tuntasnya reformasi parpol? Tentu tidak bisa buru-buru menjawab ya. Sebab, sejak pemilu 2004 sebagian publik sudah tambah pintar. Juga telah mencatat apa saja yang dulu telah dijanjikan kaum politik terutama legislator-partai yang gagal menjadi jembatan aspirasi. Publik tahu apa yang lantas benar-benar diperbuat oleh partai dan wakil mereka di parlemen. (tak sesuai janji).

Jadi kalau para pengincar jabatan tahun depan nanti mulai obral janji, tebar pesona, dan buat slogan – dalam psikologi hal itu disebut jalur periferal guna meyakinkan pihak lain – siap-siap saja mendapat respon lain. Publik muak dengan cara pinggiran (periferal) itu. Publik menuntut yang lurus-lurus saja; yang benar-benar masuk akal. ekspresi tuntutan dan sikap publik yang mendambakan wakil rakyat ”baru atau lain” dari model-model yang sekarang ada. Boleh jadi yang baru itu – baru dalam arti tidak tercemar ”kotoran” politik kini dan lalu.

Demokrasi memungkinkan rakyat untuk membuat perubahan itu. Demokrasi memungkinkan pula kita mendapat pemimpin/legislator yang tak seindah kemasannya. Janji tegas ternyata memble. katanya adil ternyata pilih kasih. Mengaku bersih ternyata korup. Bilang aspiratif ternyata punya interes. Katanya mau kerja keras demi rakyat ternyata sering tebar pesona – datang, duduk, diam, duit. Ya, itulah legislator kepepet yang juga bisa dihasilkan oleh demokrasi. Untunglah proses ini pula yang akan mencegah politisi model ini bertahta lagi – diganti oleh mereka yang dapat menjadi jembatan aspirasi publik.

Semoga siklus politik (baca:pemilu) kali ini akan lebih bermakna, dengan senantiasa memantau, menimbang, menghitung, dan mengevaluasi kerja mereka yang sekarang menjadi wakil rakyat. Bagi yang tidak memperjuangkan kepentingan publik secara konsisten, sudah tentu jangan dipilih lagi, sama halnya juga berlaku bagi caleg yang hanya bermodalkan popularitas dan tanpa ada peran yang kuat di masyarakat (kepepet), juga jangan dipilih. Pilihlah mereka-mereka yang selama ini dekat dan mau memperjuangkan kepentingan publik tanpa pamrih. Hanya melalui cara inilah, kita bisa membangun parlemen, baik di tingkat pusat maupun daerah yang berkualitas dan berkiblat pada kepentingan publik. * * * * *


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: