Oleh: mdwmaluku | Desember 7, 2008

Obama Menang!

Obama Menang!

Oleh: Mohamad Ikhsan Tualeka

Koordinator Mollucas Democratization Watch (MDW)

Opini Ambon Ekspres  7  November 2008

Seperti yang telah diprediksi oleh sejumlah jajak pendapat sebelum pemilihan, kandidat presiden Amerika (AS) dari partai Demokrat, Barack Hussein Obama akhirnya mengungguli rivalnya Jhon McCain dari partai Republik. Diberitakan CNN (05/11) sementara ini, Obama telah mendapat 349 dari 270 minimal electoral votes untuk menjadi presiden Amerika, sedangkan McCain hanya memperoleh 161 electoral votes.

Kemenangan senator dari Illinois ini, menjadi sejarah baru dimana seorang keturunan Afro-Amerika bisa menjadi presiden di AS. Kemenangan yang ikut menepis kuatnya isu rasialisme yang kerap mengemuka. Menjadi jawaban atas perjuangan politik anti diskriminasi dalam melawan paham rasial di AS.

Sesuatu yang hampir tidak pernah terbayangkan sebelumnya, di negara yang pernah selama 230 tahun menjadikan warga kulit hitam sebagai budak, dan baru pada tahun 1965 mengeluarkan voting rights act, undang-undang yang memberikan hak bagi warga kulit hitam, memberikan suara dalam pemilihan umum. Kemenangan yang tidak hanya disambut gegap-gempita oleh pendukung dan pemilihnya di AS, tapi hampir di seluruh dunia.

Kemenangan Barack Obama juga membuktikan bahwa AS layak menjadi kampiun demokrasi. Menegaskan bahwa dalam demokrasi tidak ada laki-laki atau perempuan; tidak ada kulit hitam, putih maupun coklat; tidak ada perbedaan antara Afro-Amerika, Hispanik, Asia termasuk Arab, yang ada adalah warga negara yang sama hak-hak politiknya, hak-hak sipilnya, yang sama di muka hukum, yang sama hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Kemenangan yang ikut menjawab kekhawatiran besar berbagai pihak, yang mengkhawatirkan efek “Bradley” sebuah fenomena politik yang diambil dari nama Tom Bradley. Seorang politikus AS berkulit hitam yang kalah tipis dalam pemilihan gubernur California tahun 1982. Padahal sebelumnya dia selalu unggul dalam berbagai poling.

Kala itu, kekalahan Bradley mengagetkan para pengamat AS. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa saat disurvei, para pemilih kulit putih tidak jujur tentang pilihan mereka sebenarnya. Sejak itu, para pengamat politik dan penyelenggara poling mempertimbangkan faktor “efek Bradley” dalam pemilihan yang menampilkan kandidat kulit hitam. Kini, kekhawatiran efek “Bradley” yang dilatarbelakangi persoalan ras dan merupakan isu sensitif di AS karena sejarah perbudakan dan segregasi rasial, serta kesenjangan sosial terus-menerus antara kulit putih Amerika dan kulit hitam Amerika, berhasil ditepis.

Dalam pidato kemenangan didepan ratusan ribu pendukungnya di Chicago yang disiarkan langsung sejumlah televisi, Obama mengatakan “Amerika adalah negara yang segalanya mungkin terjadi, setiap suara yang menentukan, telah ikut memberikan pesan kepada dunia kalau kita satu. Perubahan telah datang di Amerika, Kampanye yang kita awali dari kota kecil dengan dana yang kecil telah menghantarkan kita mencapai kemenangan yang merupakan kesempatan bagi kita untuk mengubah Amerika”.

Selanjutnya Obama juga menandaskan “krisis keuangan telah mengajarkan bahwa kekuatan ekonomi jangan mengabaikan rakyat, dan bagi pemirsa diseluruh dunia, takdir ini akan kita rasakan bersama. Demokrasi menentukan harapan dunia, pemilu ini sangat bersejarah, ini jawaban bagi mereka yang selama ini bersikap sinis dan ragu, namun jalan masih panjang dan suram, mungkin kita membutuhkan satu sampai empat tahun, tapi saya yakin kita akan berhasil. Saya juga memberikan penghargaan kepada Senator Jhon McCain dan Sarah Palin dan ingin segera bekerjasama dengan mereka”.

Ditempat terpisah, pidato Jhon McCain sesaat setelah mengetahui dirinya kalah dalam perolehan suara, juga menjadi pelajaran penting. Dihadapan pendukungnya, McCain mengucapkan selamat dan mendukung Obama, juga menegaskan “Rakyat Amerika telah memilih, sekalipun kalah kita telah berusaha, saya sangat menghargai usaha kalian, kalah di pemilihan presiden bukan memutuskan hubungan kita”.

Pidato yang tidak saja dapat menjadi pelajaran penting bagi setiap negara penganut demokrasi, namun juga menjadi pelajaran bahwa kekalahan adalah konsekuensi yang logis dalam politik. Adalah cermin bagaimana demokrasi tidak hanya bisa dibangun dengan sistem yang baik, namun juga membutuhkan kultur yang kondusif. McCain dengan jiwa besar dan lapang dada menerima kekalahannya, sesuatu yang sulit bisa kita temukan dalam proses demokrasi prosedural di tanah air dalam berbagai jenjang.

PELAJARAN BERHARGA

Tentu proses demokrasi yang berlangsung di AS dan kemenangan Obama tidak akan memberi arti apa-apa jika kita tidak dapat belajar dari proses itu. Sesuatu yang barangkali bisa kita pelajari adalah; demokrasi membutuhkan saling percaya, toleransi dan tidak terjebak dalam primodialisme sempit.

Mengutip pendapat Robert Dahl, salah satu aspek penting dalam budaya politik bagi stabilitas demokrasi adalah toleransi politik. Sikap saling percaya dari warga negara adalah salah satu sisi mata uang, sisi lainnya adalah sikap percaya terhadap institusi politik. Artinya, apabila tercipta rasa saling percaya diantara warga negara, intitusi politik pun semakin kuat dan sudah barang tentu akan berimplikasi positif pada kuatnya stabilitas demokrasi. Terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika menunjukkan ada kepercayaan warga kulit putih sebagai ras mayoritas kepada warga kulit hitam yang minoritas, bukti kuatnya institusi politik di Amerika

Kita juga bisa belajar bahwa dalam proses demokrasi politik, kemenangan dapat diraih jika proses politik itu dikelola dengan profesional dan oleh tim yang solid. Obama menerapkannya dengan menegaskan tiga prinsip untuk sukses, sebelum ia menyatakan siap maju sebagai calon presiden; Do Campaign respectfully , Gathering the support from the bottom, Don’t do drama (Jalankan kampanye dengan respek, bangun dari bawah, dan jangan lakukan drama).

Obama membuktikan soliditas timnya: tak ada pergantian staf, tak ada krisis keuangan atau pergantian strategi, tak ada konflik internal. Bahkan slogan kampanye “Perubahan yang Kita Percaya” pun tak berubah. Obama bilang “dia ingin berkampanye seperti berbisnis,” Alhasil, trah Clinton yang pernah mencatat sejarah kampiun di pentas politik Amerika dikalahkan dalam pemilihan pendahuluan partai Demokrat, sebelum akhirnya mengalahkan McCain.

Demokrasi memungkinkan rakyat membuat perubahan. Demokrasi memungkinkan kita mendapat pemimpin yang tidak seindah kemasannya, tapi demokrasi juga memungkinkan kita menghukum rezim yang gagal. Demokrasi juga memungkinkan siapa pun dan dari kalangan manapun untuk menjadi presiden. Sesuatu yang masih sulit kita wujudkan di Indonesia . Hingga kini, calon presiden di Indonesia masih didominasi wajah-wajah lama dan dari trah kekuasaan.

Demokrasi juga tidak identik dengan kekerasan, seperti yang kerap dipertontonkan di tanah air, Amerika memberikan pelajaran bagaimana masyarakatnya dengan tertib mau mengantri saat pemilihan, dan dengan sportif menerima kekalahan kandidatnya. Ucapan selamat dari McCain kepada Obama adalah bukti kalah-menang tetap bisa bermartabat. * * *


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: